<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kota Palu</title>
	<atom:link href="http://kotapalu.andimiswar.name/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://kotapalu.andimiswar.name</link>
	<description>Kota untuk Semua</description>
	<lastBuildDate>Sat, 03 Oct 2009 10:08:23 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>FB dan batik lokal</title>
		<link>http://kotapalu.andimiswar.name/?p=72</link>
		<comments>http://kotapalu.andimiswar.name/?p=72#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Oct 2009 08:06:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>andimiswar</dc:creator>
				<category><![CDATA[wisata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kotapalu.andimiswar.name/?p=72</guid>
		<description><![CDATA[ADALAH Abubakar Hadado yang memosting soal batik di FB. Topik ini kemudian menjalar menjadi sebuah diskusi panjang dan menarik. Walaupun beberapa komentar out of topic [oot], namun tetap saja diskusi “liar” ini bisa menjadi inspirasi bagi kita di Sulteng untuk pengembangan batik lokal.
Untuk pengembangan batik lokal, Disperingdakop kota Palu sudah berupaya mengembangkan industri batik lokal. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong><img class="alignleft size-medium wp-image-76" style="margin: 6px;" title="SAYA SBY2" src="http://kotapalu.andimiswar.name/wp-content/uploads/2009/10/SAYA-SBY2-300x227.jpg" alt="SAYA SBY2" width="300" height="227" />ADALAH</strong> <a href="http://banuabaru.blogspot.com/" target="_blank">Abubakar Hadado</a> yang memosting soal batik di FB. Topik ini kemudian menjalar menjadi sebuah diskusi panjang dan menarik. Walaupun beberapa komentar <em>out of topic</em> [oot], namun tetap saja diskusi “liar” ini bisa menjadi inspirasi bagi kita di Sulteng untuk pengembangan batik lokal.</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk pengembangan batik lokal, Disperingdakop kota Palu sudah berupaya mengembangkan industri batik lokal. Melalui Camat Palu Utara yang saat itu dijabat <a href="http://sudaryano.blogspot.com/" target="_blank">Sudaryano Lamangkona</a> sudah melakukan pembinaan dan bantuan permodalan beberapa pengrajin lokal-khususnya di Palu Utara&#8211; dan mendatangkan seorang tutor dari Pulau Jawa.</p>
<p style="text-align: justify;">Menurut Anno- sapaan akrab Sudaryano&#8211;sampai saat ini, kelompok tersebut telah mendapat order dari sejumlah sekolah untuk seragam batik. Namun, kata Anno yang saat ini menjabat Kadis Pariwisata Kota Palu, kendalanya saat ini soal dana produksi untuk membeli bahan baku.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-72"></span>Wisnu Pettalolo, salah seorang pengurus <a href="http://hipmi.org/">HIPMI Pusat</a> sangat tertarik dengan ide itu. Menurut Wisnu,  HIPMI secara moral sangat mendukung Pengembangan batik khas daerah. Lanjut Wisnu, pihak HIPMI sudah lebih awal menggalakkan pemakaian batik sehari-hari.  Pada tahun 1999, Ketua Umum Hipmi Muhammad Lutfi sering dicandain orang: “mau ke kondangan ya?”, kata Wisnu seperti dikutip dari diskusi di jejaring sosial itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Putra Donggala yang kini berkiprah di Jakarta ini mempunyai pengalaman soal batik saat berada di shopping centre Duomo Milan. Wisnu melihat seorang bule yang mengenakan batik. Wisnu pun mendekat dan menanyakan dimana beli batiknya. Bule itu lalu menunjukkan toko penjual batik yang ternyata milik bule itu sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Menurut bule itu, batik yangdijual di tokonya berasal dari Solo dan Jogja yang harganya Rp. 100 ribu perlembar. Tetapi bule itu menjualnya dengan harga paling murah 80 euro. Dengan kurs rupiah Rp. 14.000, maka harganya sama dengan delapan kali lipat dari harga aslinya di Indonesia. Bule itu mengaku, pada saat summer batik lengan pendek sangat laku.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanggapan yang sangat menarik dilontarkan Buddy Ace. Selain mengkritisi sebagian komentar yang menurutnya belum ada yang mengungkap logika dasar dari gagasan awal, Buddy juga mengatakan, sesungguhnya pengembangan sarung Donggala sudah dicanagkan Peringdakop Donggala sejak 2004 silam. Rencananya, batik Donggala akan disejajarkan dengan produk batik lainnya di Jawa melalui indistri kreatif.</p>
<p style="text-align: justify;">Mantan broadcaster radio Nebula FM ini memberikan sedikit analisisnya tentang perkembangan batik. Menurutnya, secara tradisionil, motif batik tidak berkembang, karena coraknya hanya dari satu motif ke motif lainnya dan terus berputar di situ. Tetapi kemudian mengalami perkembangan hingga kemudian pihak akademis dari Institut Seni Indonesia di Jogjakarta, membuka kelas batik pada jurusan grafis.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam konteks Sulteng, kita punya batik yang populer dengan sebutan sarung Donggala. Lama sekali, tradisi sarung itu hanya berakhir sebagai sarung saja. Tapi kemudian berkembang menjadi jas dengan motif sarung Donggala, dengan kata lain sarung yang direvisi menjadi sebuah jas. Dan coraknya, yaa masih berputar-putar di situ, tak lebih dari 30-an corak.</p>
<p style="text-align: justify;">“Karena bahan jas-nya masih sama seperti bahan yang digunakan untuk sarung Donggala, Maka lihatlah, bagaimana pejabat kita kepanasan saat menggunakan sarung, eh batik Donggala di ruang pertemuan,” komentar Buddy di topik itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Buddy lalu menyimpulkan diskusi itu dengan beberapa point :</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Sarung Donggala sebagai corak dan motif busana, harus dikembangkan dalam dua aspek utama, yakni; corak dan bahannya.</li>
<li>Corak atau motif hanya akan berkembang jika ada campur tangan seni grafis di dalamnya. Apakah kita punya seniman grafis yang memahami budaya lokal kita?</li>
<li>Masalah akan muncul ketika kita melibatkan seniman batik lokal asal Jawa. Bukan soal primordialisme sempit, tapi ini soal cita rasa. Masyarakat Kaili tentu saja akan jauh lebih menguasai ketimbang seniman asal Jawa.<br />
Dalam pemahaman saya, sebelum melakukan revolusi motif, ada baiknya mengembangkan motif lokal yang sudah ada. Yang direvolusi adalah bahan yang digunakannya. Bahan sarung yaa untuk sarung, bahan jas tentu saja dari bahan katun yang atau sutra yang lebih lembut dan sudah pasti adem ayem.</li>
<li>Selain dukungan eksekutif dan legislatif, persoalan industri kreatif tentu saja harus melibatkan perguruan tinggi. Kita memerlukan basis teori dalam pengembangan motif batik atau sarung Donggala itu.</li>
<li>Industri kreatif, hanya akan berkembang di lapangan, bukan di ruang-ruang diskusi kosing tanpa grand concept dan action planed yang mumpuni.</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kotapalu.andimiswar.name/?feed=rss2&amp;p=72</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sudah batik[kah] anda hari ini?</title>
		<link>http://kotapalu.andimiswar.name/?p=56</link>
		<comments>http://kotapalu.andimiswar.name/?p=56#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Oct 2009 03:09:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>andimiswar</dc:creator>
				<category><![CDATA[wisata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kotapalu.andimiswar.name/?p=56</guid>
		<description><![CDATA[Pagi ini saya memutuskan untuk menikmati secangkir kopi Toraja di Toragila Café. Dengan fasilitas hotspot wi-fi gratisan café yang berada di mall Tatura ini, saya mulai menjelajahi internet. Seperti biasa, dimulai dari portal berita, lalu ke Kaskus, webblog, dan Facebook [fb]   .
Beberapa fber [baca:penguna fb] menulis status soal batik. Ya, memang sebelumnya di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-medium wp-image-62" style="margin: 6px;" title="BATIKFB" src="http://kotapalu.andimiswar.name/wp-content/uploads/2009/10/BATIKFB-300x181.jpg" alt="BATIKFB" width="300" height="181" />Pagi ini saya memutuskan untuk menikmati secangkir kopi Toraja di <a href="http://toragilacaferesto.blogspot.com/" target="_blank">Toragila Café</a>. Dengan fasilitas hotspot wi-fi gratisan café yang berada di <a href="http://malltatura.com/" target="_blank">mall Tatura</a> ini, saya mulai menjelajahi internet. Seperti biasa, dimulai dari portal berita, lalu ke <a href="http://kaskus.us/">Kaskus</a>, webblog, dan Facebook [fb]  <img src='http://kotapalu.andimiswar.name/wp-includes/images/smilies/icon_redface.gif' alt=':oops:' class='wp-smiley' /> .</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa fber [<span style="color: #808080;"><em>baca:penguna fb</em></span>] menulis status soal <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Batik">batik.</a> Ya, memang sebelumnya di jejaring sosial ini banyak membahas soal batik. Disarankan untuk menggunakan foto profil batik pada tanggal 2 Oktober. Saya pun berpikir untuk berstatus batik.</p>
<p style="text-align: justify;">Masih dari fb, beberapa <a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1066086053&amp;ref=mf">fber</a> melaporkan penampakan batik dimana-mana. Fenomena ini sangat positif untuk memulai budaya batik atau secara substansial mencintai karya bangsa sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Ada apa dengan batik?</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Hari ini  [2/10/2009] <a href="http://www.kontan.co.id/index.php/nasional/news/21206/UNESCO-Batik-Adalah-Bentuk-Budaya-Bukan-Warisan-Manusia">UNESCO</a> mengukuhkan batik Indonesia sebagai Warisan Budaya Dunia (<em>World Heritage</em>). Pengukuhannya memang dilakukan di Perancis, namun pada 28 September 2009 penetapannya sudah akan dirilis.  Beberapa kalangan bahkan menyerukan tanggal 2 Oktober sebagai hari batik nasional.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-56"></span>Kabar ini sebenarnya bukan kabar baru karena pemerintah juga telah memberitakannya beberapa waktu lalu. Namun demikian, info ini bisa jadi angin segar di tengah kisruh klaim tari pendet dan sengketa penghinaan lagu kebangsaan oleh negeri jiran kita.</p>
<p style="text-align: justify;">Mengapa kita tidak menjadikan moment nanti sebagai perayaan nasional, yg siapa tahu bisa kembali membuka mata dunia seperti layaknya pemecahan rekor penyelaman di Bunaken? Tidakkah akan lebih baik jika pada tanggal tersebut pemerintah bisa mengadakan &#8216;BATIK DAY&#8217; dan mengajak seluruh warga Indonesia berpartisipasi?</p>
<p style="text-align: justify;">Kita akan lebih dihargai sebagai bangsa besar jika kita menghargai budaya sendiri. Contohnya seperti negara India, Jepang, China, Korea Selatan bahkan Thailand sebagai negara tetangga kita. Negara-negara tersebut mempertahankan budaya mereka di tengah modernisasi, dan itu terbukti ampuh dalam pergaulan antarbangsa.</p>
<p style="text-align: justify;">Mengapa kita tidak bisa, padahal budaya kita jauh lebih kaya daripada mereka?</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi, mari berharap pada tanggal 2 Oktober 2009 sebagai bangsa Indonesia yang mengaku besar dan menghargai budayanya sendiri untuk bersama &#8216;membatikkan&#8217; negeri ini, dimana semua orang dengan bangganya keluar rumah dengan mengenakan batik pada hari tersebut dan berharap Pemerintah RI menetapkan tanggal 2 Oktober 2009 sebagai Hari Batik Nasional dengan mengkampanyekan perlindungan terhadap batik Indonesia, termasuk memperjuangkan perlindungan batik melalui HaKI.</p>
<p style="text-align: justify;">berita terkait:</p>
<ul style="text-align: left;">
<li><a href="http://nasional.kompas.com/read/xml/2009/10/01/1949569/batik.akhirnya.resmi.masuk.daftar.warisan.unesco" target="_blank">Batik Akhirnya Resmi Masuk Daftar Warisan UNESCO</a></li>
<li><a href="http://www.kontan.co.id/index.php/nasional/news/21206/UNESCO-Batik-Adalah-Bentuk-Budaya-Bukan-Warisan-Manusia">UNESCO: Batik Adalah Bentuk Budaya, Bukan Warisan Manusia </a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kotapalu.andimiswar.name/?feed=rss2&amp;p=56</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ngeblog lagi?</title>
		<link>http://kotapalu.andimiswar.name/?p=36</link>
		<comments>http://kotapalu.andimiswar.name/?p=36#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Oct 2009 12:10:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>andimiswar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog!]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kotapalu.andimiswar.name/?p=36</guid>
		<description><![CDATA[
Pesona blog memang ngga pernah pudar. Walaupun kehadiran jejaring sosial yang begitu &#8220;seksi&#8221; semisal friendster, facebook, twitter dll, alasan untuk ngeblog tetap saja ada.
Setelah hampir setahun tidak pernah menjamah blog berbayar dan gratisan saya, saya berpikir untuk kembali menyambanginya. Ada rasa rindu.
Tapi  saya ngga begitu yakin, hasrat untuk kembali ngeblog ini, sama ketika pertama kali [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-39" style="margin: 6px;" title="laskar-blogger" src="http://kotapalu.andimiswar.name/wp-content/uploads/2009/10/laskar-blogger-100x100.jpg" alt="laskar-blogger" width="166" height="169" /></p>
<p style="text-align: justify;">Pesona blog memang ngga pernah pudar. Walaupun kehadiran jejaring sosial yang begitu &#8220;seksi&#8221; semisal friendster, facebook, <a href="http://twitter.com/andimiswar" target="_blank">twitter</a> dll, alasan untuk ngeblog tetap saja ada.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah hampir setahun tidak pernah menjamah <a href="http://andimiswar.name/home" target="_blank">blog berbayar</a> dan <a href="http://amiswar.blogspot.com" target="_self">gratisan</a> saya, saya berpikir untuk kembali menyambanginya. Ada rasa rindu.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi  saya ngga begitu yakin, hasrat untuk kembali ngeblog ini, sama ketika pertama kali mengenal blog empat tahun silam.</p>
<p style="text-align: justify;">Entahlah, di tengah kesibukan, ingin rasanya berbagi pengalaman yang mungkin saya temui.</p>
<p style="text-align: justify;">Semoga saja selalu menemukan inspirasi untuk dibagi di medium ini. Semoga saja&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kotapalu.andimiswar.name/?feed=rss2&amp;p=36</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menikmati “Sepotong Surga” di Bibir Teluk Palu</title>
		<link>http://kotapalu.andimiswar.name/?p=8</link>
		<comments>http://kotapalu.andimiswar.name/?p=8#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Sep 2009 06:10:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>andimiswar</dc:creator>
				<category><![CDATA[wisata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kotapalu.andimiswar.name/?p=8</guid>
		<description><![CDATA[Aroma laut yang berhembus bersama angin, membelai wajahku sore itu. Riak ombak tak begitu besar, namun terdengar iramanya memecah di tanggul.
Saya mencoba serileks mungkin dengan menyandarkan kepala pada kursi plastik biru. Ya, pantai Talise, tempat yang tak pernah membosankan untuk melepaskan penat dan rantai rutinitas. Melihat gunung dan pantai dalam waktu yang elementer menimbulkan sensasi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-medium wp-image-9" style="margin: 4px 6px;" title="album13a" src="http://kotapalu.andimiswar.name/wp-content/uploads/2009/09/album13a-199x300.jpg" alt="album13a" width="199" height="300" />Aroma laut yang berhembus bersama angin, membelai wajahku sore itu. Riak ombak tak begitu besar, namun terdengar iramanya memecah di tanggul.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya mencoba serileks mungkin dengan menyandarkan kepala pada kursi plastik biru. Ya, pantai Talise, tempat yang tak pernah membosankan untuk melepaskan penat dan rantai rutinitas. Melihat gunung dan pantai dalam waktu yang elementer menimbulkan sensasi tersendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Landskap alami itu dipermanis dengan kehadiran sebuah jembatan berwarna kuning yang membentang di atas hulu sungai Palu. Sebuah kombinasi yang mengundang decak kagum. Wallpaper yang biasa ditemui di layar komputer, kini ada di depan mata. Nyata!</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-8"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Seorang kawan kepada saya pernah mengatakan: Jika ingin gebetan anda jatuh cinta, bawalah ke pantai Talise saat matahari terbenam dan nyatakan perasaaan anda kepadanya. “Saya sangat yakin dia akan jatuh cinta kepada anda dalam suasana itu,” sarannya dengan yakin. Saya hanya mengiyakan dalam hati kala itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Sembari menyeruput secangkir sarabba (air jahe dicampur sedikit santan dan susu) di bawah langit senja yang berwarna jingga, saya menyantap jagung bakar yang dioles mentega. Sore yang sempurna untukku.</p>
<p style="text-align: justify;">Semakin sore, pengunjung kian bertambah. Mulai dari pasangan muda-mudi, mahasiswa yang pulang dari kampus, suami isteri dan anaknya serta pekerja yang pulang sore. Mereka tumplek sepanjang pantai Talise untuk sekedar menikmati pemandangan ataupun mencicipi menu yang disediakan cafe gerobak di sepanjang pantai.</p>
<p style="text-align: justify;">Mulai dari jagung bakar, pisang goreng, pisang gepe sampai minuman penambah energi. Semuanya tersedia di kawasan itu.Tak salah jika ini menjadi tempat favorit warga kota Palu untuk mengisi waktu senggangnya […]</p>
<p style="text-align: justify;">Jika seseorang menyebut Kota Palu sebagai “sepotong surga di khatulistiwa”, maka kita bisa setuju. Teluk nan elok, gunung yang membujur di Timur dan Barat, lembah dan sungai yang memisahkan wilayah Timur dan Barat bisa menjelaskan “sepotong surga” itu. Walikota Palu Rusdy Mastura menyebut kotanya sebagai sebagai kota tiga dimensi (laut, gunung dan lembah).</p>
<p style="text-align: justify;">Tak jauh dari tempat duduk saya, hanya sekitar 1 kilometer ke arah Barat, terdapat pantai Taman Ria. Tempat ini semakin menarik dan ramai dikunjungi setelah pemerintah kota memperbarui beberapa fasilitas. Diantaranya pengaspalan dan pelebaran jalan, serta pembangunan jembatan Palu IV atau biasa disebut jembatan kuning. Selain menu seperti di Pantai Talise, di kawasan ini juga dijual makanan khas seperti kaledo (sop tulang sapi) yang dimakan dengan singkong atau nasi, uvempoi (kuah asam dari tulang sapi) yang dimakan dengan burasa (nasi santan yang dibungkus daun pisang), dan uta dada (semacam opor ayam).</p>
<p style="text-align: justify;">Di kawasan ini pula, terdapat sebuah restoran yang menyediakan menu yang cukup komplit. Namun, menu favoritnya ikan bakar seperti bubara, kakap merah, baronang, sunu, dan berbagai macam ikan kualitas ekspor lainnya. Walikota Palu dalam satu kesempatan pernah mengatakan, Kawasan Pantai Talise dan Taman Ria yang membuat Kota Palu menjadi indah.</p>
<p style="text-align: justify;">“Namun kita tidak punya dana yang besar untuk bisa mengembangkan kawasan ini menjadi tempat wisata modern,” kata Walikota Palu Rusdy Mastura. Tetapi, lanjut Bung Cudy–sapan akrab Walikota Palu– pihaknya akan mengembangkan kawasan pantai di Kota Palu sebagai tempat wisata malam. “Saya yakin pantai ini akan menjadi tempat yang sangat romantis untuk bersantai bersama keluarga di malam hari,” katanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Keyakinan bung Cudy sepertinya akan segera terwujud. Pemerintah pusat akan segera menggelontorkan dana milliaran rupiah melalui inpres percepatan pembangunan untuk revitalisasi teluk Palu. Dengan dana sebesar itu, maka sangat memungkinkan untuk mengembangkan kawasan itu menjadi kawasan wisata modern.</p>
<p style="text-align: justify;">Pengembangan kawasan wisata ini tentu saja akan memicu peningkatan di sektor informal yang mulai menggeliat sejak Walikota Palu mencanangkan kotanya sebagai “Pusat Kebangkitan Ras Melayu, dan sebagai Northern Gate Indonesia (Pintu Utara Indonesia). “Kota ini akan menjadi jendela peradaban bagian Timur Indonesia dengan saudaranya dari ras kuning China,” kata Walikota Palu.</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk mengakselerasi gerak maju kota, Pemerintah Kota (Pemkot) Palu telah membentuk Tim Percepatan Pembangunan Kota Palu. Tim pimpinan Dharma Gunawan, ketua Bappeda Kota Palu itu, telah memproklamirkan tujuh program prioritas, yakni percepatan pembangunan Kota Palu dalam kerangka Inpres Percepatan Pembangunan Sulawesi Tengah.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian Membangun Unit Pelaksana Teknis dan Mendirikan Sekolah Rotan, membangun laboratorium pengembangan teknologi dan budidaya kakao, revitalisasi Teluk Palu, mendorong kemajuan informasi teknologi, membangun kawasan industri, dan melakukan revolusi teknologi melalui Lembaga Pengembangan Teknologi Tepat Guna.</p>
<p style="text-align: justify;">“Prioritas program ini, sebagai implementasi dari menjadikan Kota Palu sebagai northern gate Indonesia menuju kebangkutan peradaban ras melayu,” kata Ketua Tim Percepatan Pembangunan Kota Palu, Dharma Gunawan.</p>
<p style="text-align: justify;">Mengenai pentingnya sekolah rotan, karena pemerintah mengharapkan outputnya dapat melahirkan tenaga kerja terampil yang dapat memenuhi pasar kerja. Menurut Andi Mulhanan Tombolotutu, saat ini tidak terjadi keseimbangan. Di satu sisi, luaran dari sekolah umum membludak, tapi di sisi lain pasar kerja mencari tenaga kerja terampil dan mereka tidak menemukannya dari lulusan sekolah umum. “Maka sekolah rotan ini menjadi sangat penting. Ini sekolah kejuruan,” katanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Mimpi itu sangat rasional, berdasarkan data dari Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan Penanaman Modal (Disperindagkop-PM) Kota Palu, nilai ekspor rotan polish setiap tahun mengalami penurunan. Makanya, diharapkan ke depan rotan yang diekspor itu harus barang jadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Data menyebutkan, tahun 2000 misalnya, nilai ekspor rotan polish mencapai 9.501.085,83 ton, tahun 2001 mencapai 9.245.559,50 ton. Tahun 2003 menurun mnjadi 8.659.554,68 ton, dan tahun 2006 menurun lagi menjadi 267.511,00 ton.</p>
<p style="text-align: justify;">Meski begitu, Ketua DPRD Kota Palu, Andi Mulhanan Tombolotutu, mengatakan program yang segera direalisasikan adalah setiap kelurahan memiliki sistem mitigasi dan tanggap darurat bencana yang aktif.</p>
<p style="text-align: justify;">Seluruh sentra produksi, industri dan kawasan pemukiman memiliki listrik, telekomunikasi, air bersih, sanitasi, irigasi, drainase, serta transportasi sesuai dengan Rencana Umum Tata Ruang Kota. Bebas pencemaran lingkungan dan seluruh limbah diolah menjadi produk bernilai tambah.</p>
<p style="text-align: justify;">Pelabuhan udara,Laut, dan terminal petikemas memenuhi standar nasional serta terintegrasi dengan kawasan industri terpadu. Seluruh wilayah Kota Palu bebas banjir yang diakibatkan oleh meluapmya air sungai. “Kita tidak mau menetapkan program yang muluk-muluk. Saya pikir, program seperti ini sangat rasional dan bisa dilaksanakan dalam beberapa tahun ke depan,” tandasnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Matahari semakin condong ke Barat, semburat jingga menggelap berganti kerlip lampu di sepanjang pantai. Sebentar lagi malam menjemput, dua tongkol jagung sudah ludes, secangkir sarabba sudah tandas. Lamat-lamat azan magrib menghilang. Saya pun mengemasi bawaan untuk bergegas pulang. Sore yang terasa singkat namun indah di bibir teluk Palu. Eits, jangan lupa saran kawan saya: buat gebetan anda jatuh cinta di Pantai Talise! <em>Selamat mencoba</em>!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kotapalu.andimiswar.name/?feed=rss2&amp;p=8</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
